Kebumen News :
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Hanya Allahlah yang tahu yang ghaib

Written By MTA ONLINE on Minggu, 27 Mei 2012 | 08.03

Ada yang mengatakan bahwa seseorang bisa tahu atau melihat JIN, padahal kita tahu bahwa JIN itu termasuk mahluk ghaib, dan segala sesuatu yang ghaib itu hanya Allahlah yang tahu, sebagaimana Allah sendiri yang mengatakan di dalam Al-qur’an surat Al-An’aam ayat 59,

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang
basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [QS.6:59]

Kalau demikian jika ada orang yang mengatakan ada seseorang yang mengatakan tahu atau melihat mahluk ghaib, maka kita lebih percaya kepada siapa …? kepada kata orang atau kepada Allah.

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Sepersusuan yang menjadikan mahram

Sebagaimana kita ketahui di dalam ayat 23 surat An-Nisaa’ bahwa yang termasuk mahram atau orang yang tidak boleh dinikahi adalah saudara sepersusuan maksudnya orang yang sama-sama disusui oleh ibu yang sama, namun apakah sekali atau berapa kali menyusui yang akan menjadikan mahram ?

Ternyata kalau hanya sekali atau dua kali menyusui tidak bisa menjadikan mahram, tetapi harus lima kali susuan sebagaimana di jelaskan dalam riwayat ketika seorang sahabat ingin menjadikan anak yang biasa datang ke rumahnya agar menjadi mahram,

“……..Sahlah binti Suhail, isteri Abu Hudzaifah wanita dari Bani ‘Amir bin Lu’aiy menemui Rasulullah SAW dan berkata,

“Ya Rasulullah, dahulu kami melihat Saalim sebagai anak yang masih kecil, dia biasa masuk ke tempatku, sedang aku memakai pakaian sehari-hari dan kami tidak mempunyai rumah kecuali hanya satu, lalu bagaimana pendapat engkau tentang hal itu ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Susuilah dia lima kali susuan”. Maka dengan susuan itu ia menjadi mahram, dan Sahlah memandangnya sebagai anak susu. …. [HR. Maalik dalam Al-Muwaththa' juz 2, hal. 705, no. 12]

Selain itu yang menjadikan mahram adalah menyusui yang sampai mengenyangkan sebagaimana hadits, ” Dari Ummu Salamah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram melainkan susuan yang memberi bekas pada perut dengan susuan itu, dan hal itu terjadi pada waktu anak tersebut belum disapih”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 311, no. 1162, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih].

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Kursi Allah meliputi langit dan bumi

Sebagian besar umat islam tentu tidak asing dengan ayat kursi, karena memang sangat banyak kita jumpai di berbagai tempat dipajang tulisan ayat kursi baik dalam bentuk sticker, kaligrafi dan semacamnya, yang dalam salah satu kalimat terjemahannya mengatakan “Kursi Allah meliputi langit dan bumi”. Lalu apa yang dimaksud dengan kursi Allah tersebut ? Ada yang memberikan pengertian bahwa maksud kursi Allah ini adalah kekuasaan Allah yang menguasai langit dan bumi.

Terlepas dari pengertian dimaksud adakah fadlilah atau keutamaan ayat kursi tersebut hingga banyak ditulis di berbagai media dan dipajang di berbagai tempat ?

Bahkan banyak juga yang membacanya pada saat-saat tertentu. Untuk itu perhatikan apa yang disampaikan oleh rasulullah tentang ayat kursi, Dari Muhammad bin Ziyad Al-Alhaniy, ia berkata : Saya mendengar Abu Umamah mengatakan : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa membaca ayat Kursi pada setiap sesudah shalat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya untuk masuk surga kecuali mati”. [HR. Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir juz 8, hal. 114, no. 7532]

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA

Written By MTA ONLINE on Minggu, 06 Mei 2012 | 20.22

Sekum MUI Jateng Hadiri Jihad Pagi MTA

Kalau pengurus MUI Pusat Jakarta hadir di Jihad Pagi MTA mungkin sudah sangat terbiasa, namun kalau Pengurus MUI Jateng berkenan hadir di Jihad Pagi MTA itu namanya sangat istimewa. Beliau adalah Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA yang menjabat sebagai Sekretaris Umum MUI Jateng yang juga merupakan guru besar di IAIN Wali Songo Semarang, berkenan hadir sekaligus memberikan tausyiah di pengajian ahad pagi di gedung MTA Jl. Ronggowarsito 111 A Surakarta. Sebagaimana pada jihad pagi sebelumnya diawali dengan tanya jawab peserta pengajian kepada Al-ustadz Drs. Ahmad Sukina yang pada kesempatan ahad ini membahas tentang Berpegang Teguh pada Al-qur’an dan Sunnah di saat rusaknya umat saat ini. Maka sangatlah penting adanya amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah rusak umat, karena itu mereka yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar pada saat itu akan medapatkan pahala lima puluh orang sahabat nabi. Selanjutnya Prof Rofiq dalam memberikan tausyiahnya juga mengangkat tema tentang pentingnya amar ma’ruf nahi mungkar, karena sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam Al-qur’an surat Ali-Imron 104 “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” Termasuk dalam kaitanya amar ma’ruf nahi mungkar adalah peran MUI untuk menegur KPI yang tidak mengawasi tayangan-tayangan TV atau radio yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma yang berlaku.
Artikel ini di coppy sepenuhnya dari  »    www.mt@-online.com    www.mt@fm.com

Ujian Kejujuran

Written By MTA ONLINE on Rabu, 14 Desember 2011 | 08.29

Kejujuran adalah moral utama manusia beriman. Entah akan beresiko menjadi beruntung ataupun sebaliknya, seharusnya prinsip berlaku jujur harus ditegakkan. Apapun hasil yang diterima. Sangat mungkin terjadi, seorang mahasiswa yang jujur kepada dosennya bahwa ia telah melakukan menyontek. Akan diberikan ucapan atas kejujuran tetapi tetap saja menjadi tidak lulus, karena dalam kontrak pengajaran memang sudah disepakati. Yang nyontek maka tidak lulus.
Seorang pedagang berlaku Jujur. Dagangannya malah menjadi kurang laku dan dia tidak disukai penjual sekitarnya. Padahal kalo dia mau ikuti kebiasaan pedagang lainnya, ia akan membawa untung yang lebih banyak.
Seorang Polisi sederhana yang jujur. Dia tidak disukai rekan-rekan sejawatnya, karena tidak mau terlibat dalam usaha-usaha yang berbau korup. Padahal jika dia mau ikut saja atau minimal menyetujui kekotoran itu, maka uang dan harta akan mudah mengalir.
Sobat, jujur terkadang memang tidak nyaman. Tetapi melahirkan ketentraman. Jujur sering dihadapi dengan hati yang ’sulit’ terutama ketika bertemu situasi dengan pilihan instant untung rugi, dipuji dimarahi dan berbagai kondisi yang tidak mengenakkan.
Membaca dan merenungi ayat dibawah ini, QS. At Taubah (9) : 118. Mengingatkan diri kita, bahwa sebuah kejujuran tidak harus selalu beruntung  tetapi butuh proses panjang untuk memperoleh ujung yang  membahagiakan. Dan itu adalah bagian dari seleksi ujian dari Allah, sehingga akan ter-eliminasi orang-orang yang tidak serius dalam beriman, palsu dalam bertaubat. Dan akan melahirkan pribadi-pribadi istimewa yang benar-benar tangguh dalam menggengam sifat-sifat wajib manusia beriman, dimana Kejujuran adalan salah satunya.

وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Dan terhadap tiga orang[665] yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, Padahal bumi itu Luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.
[665] Yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi’. mereka disalahkan karena tidak ikut berperang.
Inilah kisah sahabat yang mulia tersebut :
Ka’ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Nabi yang mendapat anugerah Allah berupa kepiawaian dalam bersyair dan berjidal. Syair-syairnya banyak bertemakan peperangan. Kemampuan sebagai penyair ini, mengantarkannya menduduki posisi khusus di sisi Nabi, selain dua sahabat yang lain, yaitu Hassan bin Tsabit dan Abdullah bin Rawahah. Ka’ab bin Malik termasuk pemuka sahabat dari kalangan Anshar yang berasal dari suku Khazraj. Nama lengkapnya ialah ‘Amr bin Al Qain bin Ka’ab bin Sawaad bin Ghanm bin Ka’ab bin Salamah. Pada masa jahiliyah, ia dikenal dengan kunyahnya (panggilan) Abu Basyir.
Kisah kejujuran Ka’ab bin Malik ini, berawal saat Rasulullah telah mengambil keputusan untuk menyerang Romawi. Beliau memobilisasi para sahabat untuk tujuan itu. Kaum rnuslimin segera melakukan persiapan dan berlomba-lomba menginfakkan harta yang mereka miliki.
Di tengah kesibukan kaum muslimin melakukan persiapan, ada seorang sahabat yang belum memulainya. la bernama Ka’ab bin Malik. Kali ini, Allah hendak mengujinya dengan perang Tabuk.
Pada masa tuanya, Ka’ab bin Malik menuturkan kisahnya kepada putranya : “Aku tidak pernah absen dalam satu peperangan pun bersama Rasulullah kecuali dalam perang Tabuk dan perang Badr. Tatkala Rasulullah berangkat bersama pasukan, aku masih terlambat dan belum sempat melakukan persiapan. Batinku berharap, aku bisa menyusul mereka. Namun akhirnya, langkahku benar- benar terhambat. Kesedihanku bertambah, ketika aku tahu bahwa orang-orang yang tidak bergabung dalam jihad itu hanya orang-orang yang tertuduh munafik atau kaum yang lemah fisiknya”.
Saat Rasulullah tiba di Tabuk, Beliau bertanya: “Apa yang terjadi dengan Ka’ab?”
Seorang laki-laki dari kaumku dengan kiasan menjawab,”Baju kesayangannya telah menahannya”. Namun Mu’adz menangkisnya,”Sungguh buruk perkataanmu. Demi Allah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali baik saja”. Rasulullah terdiam.
Ketika Rasulullah, kembali dari peperangan, orang-orang yang absen segera menemui Beliau, untuk menyampaikan alasan-alasan mereka. Jumlah mereka delapan puluh orang lebih. Rasulullah pun menerima alasan-alasan mereka dan memohonkan ampun bagi mereka.
Sempat terbesit dalam benakku untuk mengajukan alasan dusta kepada Beliau, agar aku selamat dari kemarahan Beliau. Namun kuurungkan niatku dan kubulatkan tekad untuk berkata jujur kepada Beliau. Aku mengucapkan salam kepada Beliau, Beliau tersenyum kecut kepadaku.
Beliau berkata,”Kemarilah!”
Aku pun mendekat dan duduk di hadapan Beliau.
Beliau bertanya kepadaku,”Apa yang menahanmu? Bukankah engkau telah mempertaruhkan punggungmu?”
Aku menjawab,”Benar, wahai Rasulullah. Demi Allah, seandainya saat ini aku duduk di hadapan orang selain engkau, tentu aku sampaikan segala argumentasi yang dapat menyelamatkanku dari kemarahan, lantaran aku ahli berjidal (pandai bicara). Namun aku sungguh mengetahui, seandainya hari ini aku berdusta supaya engkau memaklumiku, niscaya Allah yang akan memberitahukan kepada engkau. Aku mengatakan alasan yang sebenarnya dengan jujur kepadamu. Dan sungguh, aku berharap ampunan Allah dengan kejujuranku. Demi Allah, aku sama sekali tidak memiliki alasan saat aku berdiam di rumah dan tidak ikut serta perang bersamamu.”
Beliau berkata,”Laki-laki ini telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memutuskan perkaramu,” aku pun berdiri dan meninggalkan Beliau.
Sekelompok laki-laki dari Bani Salimah mengejarku seraya berkata,”Demi Allah, kami tidak mengetahui engkau melakukan dosa sebelum ini. Mengapa engkau tidak beralasan seperti yang dilakukan orang-orang itu? Sungguh, permohonan ampun Rasulullah untukmu akan menghapus dosamu.”
Mereka terus membujukku hingga aku berpikir untuk kembali kepada Rasulullah dan berdusta kepada Beliau. Aku bertanya kepada mereka,”Adakah orang yang mengalami hal yang sama sepertiku?”
Mereka menjawab,”Ada! Dua orang laki-laki yang mengatakan alasan seperti alasanmu. Dan Rasulullah mengatakan perkataan yang sama kepada mereka, seperti yang Beliau katakan kepadamu.”
Aku bertanya,”Siapa mereka?”
Mereka menjawab,”Murarah bin Ar Rabi’ Al ‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al Waqifi.”
Mereka adalah dua orang sahabat yang ikut dalam perang Badr dan pada diri mereka terdapat suri tauladan. Aku pun berlalu meninggalkan mereka.
Sejak saat itu, Rasulullah melarang para sahabat berbicara dengan kami, tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Dua sahabatku, mereka tak tahan menghadapi hajr (isolasi) yang dilakukan kaum muslimin terhadap kami. Mereka mengurung diri dalam rumah dan tak pernah berhenti menangis. Sedangkan aku adalah orang yang termuda dan terkuat di antara mereka. Kukuatkan hatiku untuk menemui orang-orang, berharap akan ada seseorang yang menyapaku. Namun tak ada seorang pun yang mau berbicara denganku.
Ketika aku memasuki masjid, kuucapkan salam kepada Rasulullah. “Apakah Beliau akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab salamku?” tanya hatiku.
Aku pun shalat dan mengambil posisi terdekat dengan Beliau. Aku mencuri-curi pandang kepada Beliau. Ketika aku fokuskan pandangan pada shalatku, Beliau memandangku. Dan bila aku meliriknya, Beliau memalingkan wajahnya dariku.
Keadaan itu terus berlanjut hingga beban itu kian berat kurasakan. Aku pun menemui Abu Qatadah, sepupuku dan orang yang sangat kucintai. Aku memanjat dinding rumahnya dan kuucapkan salam padanya. Namun dia tidak menjawab salamku. Aku berkata memelas padanya, “Wahai, Abu Qatadah! Demi Allah, bukankah engkau mengetahui bahwa aku mencintai Allah dan RasulNya?”
la hanya terdiam dan tidak menanggapi perkataanku. Kuulangi kata-kataku tadi berkali-kali, hingga ia berujar singkat: “Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui”. Air mataku pun meleleh tanpa bisa kutahan. Aku berlalu.
Suatu ketika, saat aku berjalan di pasar kota Madinah, seorang laki-laki dari Syam yang menjual makanan di pasar itu bertanya kepada orang- orang: “Siapakah yang mau menunjukkan Ka’ab bin Malik kepadaku?”
Orang-orang pun memberitahukannya. Dia pun mendatangiku. Kemudian menyerahkan sehelai surat dari Raja Ghassan. Tertulis dalam surat itu:
“Telah sampai berita kepadaku, bahwa temanmu telah menyia-nyiakanmu. Sedangkan Allah tidak menjadikanmu orang yang terhina dan tersia-siakan. Bergabunglah dengan kami, maka kami akan rnenolongmu”.
Aku berkomentar,”lni pun cobaan untukku,” lalu aku lempar surat itu ke dalam tungku api.
Setelah berlalu empat puluh hari semenjak Rasulullah dan para sahabat mengisolasi kami, tiba-tiba datang utusan Beliau dengan membawa perintah agar aku menjauhi istriku. Aku bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya atau apa yang harus kulakukan?”
Sang utusan menjawab,’Tidak, tapi jauhilah ia dan jangan engkau sentuh.”
Aku berkata kepada istriku, “Kembalilah kepada keluargamu. Tinggallah bersama mereka sampai Allah memutuskan perkara ini.”
Keadaan seperti itu terus berlanjut. Hingga tibalah suatu pagi selepas aku shalat shubuh. Kondisiku saat itu seperti yang ijak seakan tak kukenali lagi.
Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak: “Wahai, Ka’ab bin Malik! Berbahagialah!” Aku pun segera menghaturkan syukur dengan sujud kehadiratNya. Sungguh telah datang jalan keluar bagi kami. Rasulullah telah mengumumkan kepada para sahabat setelah shalat Shubuh. Allah telah menerima taubat kami.
Orang-orang berbondong-bondong menemui kami dan mengekspresikan kegembiraan mereka atas berita ini. Sungguh tak terlukiskan kebahagiaanku saat itu. Aku memberikan dua baju yang kukenakan kepada laki-laki yang datang membawa kabar gembira itu. Padahal saat itu, aku tidak memiliki baju selain kedua baju itu. Oleh karena itu, aku meminjam baju dan bergegas ke masjid menemui Rasulullah.
Saat itu Beliau dikelilingi para sahabat. Tiba-tiba Thalhah bin Ubaidillah berdiri dan berlari kecil menghampiriku, kemudian ia menggamit tanganku dan menyalamiku seraya mengucapkan selamat untukku. Sungguh, tidak ada seorang pun yang berdiri dan melakukan seperti yang ia lakukan, hingga aku pun tidak pernah melupakan kebaikannya itu.
Aku pun masuk masjid dan mengucapkan salam kepada Rasulullah. Saat itu wajah Beliau berseri-seri dan bersinar bak rembulan. Tatkala aku sudah duduk di depan Nabi, Beliau berkata: “Berbahagialah dengan hari terbaik yang engkau jumpai semenjak ibumu melahirkanmu”.
“Apakah pengampunan ini darimu, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” tanyaku.
Beliau menjawab, “Tidak! Pengampunan ini datang langsung dari sisi Allah.”
Aku berkata kepada Beliau:
“Wahai, Rasulullah! Sungguh, sebagai cerminan nyata taubatku, aku sedekahkan hartaku di jalan Allah”.
Beliau berkata, “Tahanlah sebagian hartamu untuk dirimu, karena itu lebih baik bagimu.”
Aku mentaati perintah Beliau dan berkata: “Kalau begitu, aku tahan anak panahku yang kugunakan dalam perang Khaibar. Dan sungguh Allah telah menyelamatkanku dari perkara pelik ini karena kejujuran. Maka sebagai wujud taubatku pula, aku tidak akan berbicara kecuali dengan jujur”. Sungguh, aku tidak mengetahui ada orang lain yang mendapat ujian kejujuran seperti Allah mengujiku. Hingga sampai saat ini, aku tidak pernah bicara dusta satu kali pun sejak berjanji kepada Rasulullah. Dan aku morion kepada Allah agar menjagaku pada sisa umurku ini”.
Demikianlah sosok Ka’ab bin Malik. Seorang mujahid di jalan Allah dengan pedang dan lisannya. Sosok patriot yang memiliki kejujuran setegar batu karang. Tak terkikis oleh ujian yang menyempitkan hatinya. Dijalaninya sisa hidupnya dengan selalu menggenggam kejujuran. Pada masa tuanya, ia kehilangan penglihatannya. Dan putranya, Abdullah yang menjadi pemandu sejak Allah menghilangkan penglihatannya. Ka’ab bin Malik wafat pada masa pemerintahan Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. Semoga rahmat dan keridhaan Allah senantiasa tercurah atas diri penyair Rasulullah ini.
*****
Semoga sosok Ka’ab yang jujur , pemberani dan sabar menanggung resiko tersebut menular kepada bangsa ini. Bayangkan, alangkah mudahnya andai : Beliau berbohong saja, maka ia akan selamat (baca:sementara) seperti orang-orang munafik lainnya. Atau menerima tawaran dari utusan Raja Ghassan, bukankah akan dimulyakan jikalau dia mau berpindah kesana. TETAPI dengan SEMANGAT baja tetap memilih JUJUR, dan BERSABAR dalam menjalani proses TAUBAT dan memilih Allah dan Rasul-Nya sehingga selamat di Akherat dan di dunia. InsyaAllah.
Apakah kita berani menirunya??

Perwakilan paling barat di Jateng Diresmikan

Written By mt@kebumen on Minggu, 25 September 2011 | 11.50

Cilacap, 18 September 2011
Satu lagi perwakilan MTA di wilayah kabupaten yang berbatasan dengan Jawa barat dan Jawa timur telah diresmikan yang ditandai dengan pengukuhan pengurus MTA Perwakilan Cilacap oleh ketua umum MTA Drs. Ahmad Sukina. Peresmian perwakilan yang ditandai dengan Pengajian Umum dengan mengangkat tema Pembekalan Umat Pasca Ramadhan diadakan di lapangan bola milik PTPN di desa Panulisan Timur, kecamatan Dayeuh Luhur, kabupaten Cilacap di jalan raya Purwokerto – Bandung tepatnya hanya 3 KM menuju perbatasan dengan Jawa Barat.


Ribuan jama’ah yang datang dari berbagai daerah di sekitar Cilacap yang memadati lapangan tampak khidmat mengikuti tausyiah inti yang disampaikan oleh Ketua MUI Pusat KH. Ahmad Cholil Ridwan, LC. Bahkan lebih surprise lagi dengan hadirnya orang nomor satu di Kabupaten Cilacap yaitu Bupati Cilacap H. Tato Suwarto Pamudji. Tentu saja hadirnya seorang bupati pada acara tersebut akan berdampak positif demi perkembangan dakwah yang disampaikan oleh MT

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » http://mtafm.com/v1

Kenapa Kita Masih Malu Untuk Ber-Kerudung Syar’i

Written By mt@kebumen on Minggu, 21 Agustus 2011 | 08.28

Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu mengikuti jalan petunjuk-Nya. Amien

Allah SWT telah mendidik umat manusia di dalam menjaga kesucian dirinya, agar dengan kesucian yang dimilikinya itu maka manusia akan mampu untuk selalu melihat tanda-tanda Ke Maha Sucian dan Ke Maha Agungan Allah SWT, dan dapat selalu merasakan kehadiran keagungan Allah disegenap ciptaannya, dan kemudian akan terasa mudah dan ringan untuk selalu beribadah, memuji, bertasbih mengagungkan Allah Tuhan Pencipta Semesta Alam, Tuhan Yang Maha Esa dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Allah SWT berfirman yang artinya :

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (QS. 83:10)
(yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan. (QS. 83:11)
Dan tidak ada yang mendustakan hari pembalasan itu melainkan setiap orang yang melampui batas lagi berdosa, (QS. 83:12)
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata:”Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu”. (QS. 83:13)
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (QS. 83:14)
Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka. (QS. 83:15)
Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka. (QS. 83:16)

.
Ada suatu pesan yang amat dalam dari firman-firman tersebut, bahwa Allah menjelaskan kepada kita kenapa di dunia ini ada saja orang yang mengkufuri nikmat Allah dan suka menjadi kafir, suka menjauh dari Allah Tuhan Pencipta Semesta Alam. Penyebabnya adalah disebabkan orang tersebut suka mengotori diri dan suka berbuat dosa. Dan kemudian dosa-dosa itu menutupi mata hati nuraninya, dan kemudian mereka terhalang dari melihat tanda-tanda Keagungan Allah, baik di dunia , di akherat kelak, dan bahkan mereka dijauhkan dari rahmat Allah.
.
Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (QS. 17:72)

Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (QS. 28:41)
Dan Kami ikutkan la’nat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. 28:42)

.
Hati manusia tempat berkumpulnya pahala dan dosa, bila diri manusia memiliki banyak amal sholih maka kecenderungan hati akan senang mengikuti petunjuk-petunjuk Allah, sedang bila hati manusia banyak melakukan perbuatan jahat, maka hati akan cenderung meragukan petunjuk-petunjuk Allah, atau bahkan hati akan menentang petunjuk-petunjuk Allah tersebut.

Allah SWT memberikan kesempatan yang mulia kepada kaum hawa, kaum wanita untuk menggunakan baju-baju penutup aurat, agar diri-diri mereka dan masyarakat mereka terjaga kesucian hatinya.
.
Katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka………………. (QS. 24:31)

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)
.

Segala puji hanya bagi Allah, Zaman Modern, Zaman penuh bertaburan bungkus-bungkus indah menawan. Disana-sini muncul berbagai barang dan makanan yang terbungkus indah dan rapi, yang ditata dalam bebagai tempat yang indah menawan hati. Berwarna-warni bungkus-bungkus menawan yang gemerlap dan penuh artistik bertabur dengan hiasan-hiasan indah nan menawan, untuk memberikan daya tarik dan bukti kepada para pembeli bahwa barang yang ada dalam bungkus itu sesuatu yang berkwalitas dan layak dipilih.

Segala puji bagi Allah, dalam zaman yang bertabur dengan mudahnya orang untuk membungkus barang, namun banyak muslimat-muslimat yang masih meragukan perintah Allah tentang menggunakan pakaian kerudung sebagaimana yang dikehendaki Allah, pakaian indah yang diberikan Allah agar kesucian seorang muslimah selalu terjaga, dan agar lingkungan pun terjaga kesuciannya.

Demikianlah tingginya nilai-nila hidayah petunjuk di dalam hati manusia, sungguh di hari ini, diberbagai belahan dunia telah tumbuh dengan suburnya kaum wanita dengan ikhlash memakai pakaian kerudung, namun di negri kita, negri yang dipenuhi kaum muslimin yang sangat besar ini masih saja ada kaum muslimah masih malu atau ragu-ragu menggunakan pakaian kerudung yang indah menawan dan penuh dengan keridhoan Allah.

Masih banyak wanita muslimah yang bangga dengan pakaian-pakaian ala kadarnya untuk menutup auratnya, bahkan ada juga seorang wanita islam yang memakai baju mengikuti baju-baju yang terbuka tidak menutup aurat dengan benar dan bahkan malah membeberkan dan menampakkan auratnya. Ya itulah hati yang masih ragu, hati yang ragu dengan petunjuk Allah, hati yang lebih suka memakai baju ala kadarnya dan terbuka auratnya, dan bahkan masih merasa malu dengan memakai baju yang menutup rapat seluruh auratnya.

Baju-baju kerudung, baju penjaga kesuciaan jiwa, baju indah yang dijadikan oleh Allah untuk menjaga kesucian jiwa seorang wanita, baju yang dapat digunakan mempertahankan iman dalam diri wanita, baju yang akan melestarikan keimanan seorang wanita, seorang ibu, seorang pendidik bagi anak-anaknya. Baju ibu-ibu sholihan, Ibu-Ibu penggugah masa depan generasi baru, generasi yang bermoral mulia.

Alasan dan alasan dan alasan boleh saja diungkapkan oleh kaum wanita muslim yang masih engan menggunakan pakaian kerudung, namun Allah lah yang Maha Tahu tentang isi hati setiap wanita Muslimah yang masih enggan memakai baju berkerudung. Dan biasanya keengganan itu diantaranya disebabkan oleh karena lemahnya iman. Kelemahan iman memunculkan perasaan malu dihati, perasaan malu yang dibisikkan syaita didalam hati, perasaan malu untuk memakai baju muslim yang indah dan menawan.

Jaman modern jaman penuh dengan bungkus-bungkus indah menawan, semoga kaum muslimat bersegera untuk menyambut seruan Allah untuk bangga memakai baju penutup aurat, baju kerudung yang indah dan menawan. Dan mulai merasa malu memakai baju-baju terbuka, baju-baju yang membuka aurat, baju-baju yang biasa dipakai oleh orang-orang yang masih jahil tentang Islam dan bahkan ada dari mereka yang amat benci kepada Islam, benci kepada Allah Tuhan Pencipta Semesta Alam.

Semoga Allah menunjuki seluruh kaum muslimah untuk mencintai baju-baju indah dan penuh pesona yang telah dipilihkan oleh Allah untuk mereka, Mari kita mulai hari ini untuk bersegera memakai pakaian-pakaian indah penutup Aurat, pakaian indah bagi wanita Muslimah, wanita-wanita yang dicitai Allah, wanita-wanita yang banyak beribadah kepada Allah, wanita-wanita yang berhati suci dan lembut hati, hati yang di ampuni dan dirahmati Allah. Amien Wallahu a’lam.

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Bersiap Menjadikan Ramadhan Terbaik

Written By mt@kebumen on Minggu, 31 Juli 2011 | 07.30

Pertengahan Sya’ban sudah berlalu. Ramadhan 1432 H tinggal beberapa hari lagi. Waktu terus berjalan, tanpa pernah berhenti. Hari yang berganti hari, bulan yang berganti bulan, dan tahun yang berganti tahun, dalam semua perputaran waktu itu Allah SWT senantiasa memberikan kenikmatan kepada kita.

Setelah kenikmatan terbesar berupa iman, maka kenikmatan-kenikmatan lainnya dianugerahkan kepada kita tanpa bisa kita hitung jumlahnya, bahkan seringkali tidak kita sadari kehadirannya. Yakni nikmat waktu, kesempatan yang diberikan Allah kepada manusia. Maka, bersyukurlah atas nikmat Allah yang tiada tara ini.

Diantara kenikmatan itu adalah sampainya usia kita di akhir bulan Sya’ban ini. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan yang penuh dengan keutamaan. Yakni bulan Ramadhan. Pertanyaannya adalah, sudahkah kita siap dalam menyambutnya? Atau jangan-jangan kita malah berkesah diri karena memasuki bulan dengan beban berat. Atau bahkan tidak peduli, karena sedang tenggelam dengan aneka kesibukan duniawi?? Ataukah memang sedang berencana dan menyambutnya?

Jika para sahabat telah mempersiapkan diri dua bulan sebelum Ramadhan tiba bagaimana dengan kita?, sebagaimana doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah, berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta berkahilah kami di bulan Ramadhan (HR. Ahmad)

Sobat, Allah dalam Al Qur’an memberikan arahan kepada kita sebagai hamba untuk selalu mempersiapkan diri untuk esok hari sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al- Hasyr ayat 18 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Maka sebelum bulan Ramadhan marilah kita siapkan diri sehingga bisa memanfaatkan waktu tersebut dengan maksimal dan menjadi pribadi Taqwa sesuai tujuan Shaum.

Pertama, adalah Ruhiyah. Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas. Pengokohan aqidah adalah pondasi utama dalam persiapan ruhiyah ini. Tanpa aqidah yang benar, bisa jadi seseorang justru terjatuh dalam syirik. Dan kesyirikan selamanya takkan berbuah keikhlasan. Aqidah yang benar adalah kuncinya. Karenanya surat di dalam Al-Qur’an yang kesemuanya membahas aqidah dinamakan surat Al-Ikhlas.

Membersihkan hati atau tazkiyatun nafs juga hal yang urgen dilakukan dalam menyambut tamu Allah yang istimewa ini. Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)

Maka lakukan evaluasi diri (muhasabah) apakah penyakit aqidah masih menjangkiti diri kita. Selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu. Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq ‘Alaih)

Dan mustinya menyambut Ramadhan dengan berbagai kesyirikan (maaf: terkadang dengan dalih budaya) harus ditinggalkan. Berani katakan TIDAK untuk kegiatan-kegiatan menyambut Ramadhan yang tidak syar’i.

Kedua adalah Fikriyah. Kunci amal adalah Ilmu. Dan Ngaji adalah sarana beramal mencari ilmu. Sebelum Ramadhan tiba, kita harus membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan. Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa. Juga tarawih, I’tikaf, zakat, dan sebagainya.

Berlalu masa setahun, seringkali diri ini lupa akan materi-materi seputar Ramadhan, dan sebagai orang beriman wajib untuk “tidak bosan” mengulangi pelajaran-pelajaran seputar bulan puasa. Karena pada dasarnya itu malah menguatkan keimanan bagi orang yang berhati bersih.

Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal). Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar? Pemahaman ilmu syar’i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Karenanya Rasulullah SAW bersabda :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama (Muttafaq ‘Alaih)

Ketiga adalah jasadiyah. Ramadhan membutuhkan persiapan fisik yang sehat. Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal. Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya.

Kita diharapkan tetap PRODUKTIF dengan kegiatan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Dan jauh dari sifat kemalasan, apalagi dengan mengkambing hitamkan puasa. Kita juga akan melakukan ibadah dalam porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Shalat tarawih, misalnya. Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan. Di sini, logika akal bertemu dengan keutamaan syar’i dalam hadits nabi:

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

Bagi yang ditakdirkan sakit ketika bulan Ramadhan tidak perlu kecil hati, tetap berusaha dengan maksimal. Allah selalu melihat PROSES hamba-Nya yang sedang mengoptimalkan diri dalam menjalankan perintah-Nya.

Terakhir adalah persiapan maliyah. Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan BUKANLAH untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, sibuk mencari bekal oleh-oleh mudik dan lain-lain. Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan. Tentu saja ini berlaku bagi yang mampu.

Rasulullah SAW mencontohkan bahwa beliau yang begitu dermawan di hari-hari biasa, dan bertambah SANGAT dermawan di bulan Ramadhan mengalahkan angin yang berhembus.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur’an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin (HR. Bukhari)

Kedermawanan Rasulullah SAW bertambah hebat ketika bulan Ramadhan. Ini mengajarkan kepada umat beliau bahwa Ramadhan sebagai bulan dimana kita harus back on the right track. Melipatgandakan kebaikan yang biasa dilakukan, menguatkan diri dalam perjuangan dakwah, bertobat dari kesalahan dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan. Mari kita mulai dari diri ini, keluarga dan sekitar. insyaAllah cita-cita meraih Taqwa bisa dicapai.

Bisa jadi kita tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ramadhan, karena usia yang rahasia. Lakukan yang terbaik! Saat ini juga.

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Fitnah paling bahaya adalah fitnah wanita

Written By mt@kebumen on Senin, 13 Juni 2011 | 19.02

Bagi laki-laki yang masih membujang dan ada kemampuan untuk menikah, maka diperintahkan untuk segera menikah. Rasulullah bersabda,

Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepada kami, “Hai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”. [HR. Muslim juz 2, hal. 1019]

Dan Sa’ad bin Abu Waqqash, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang, dan kalau sekiranya Rasulullah SAW mengijinkannya tentu kami berkebiri”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 118]

Karena itu bagi yang sudah berkemampuan untuk menikah, maka sebaiknya segera menikah, karena bisa menjaga dari fitnah yang paling berbahaya yaitu fitnah atau cobaan dari wanita.
Dari Usamah bin Zaid, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Sepeninggalku nanti tidak ada fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada fitnah wanita”. [HR. Muslim juz 4, hal. 2097]

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Metode Praktis Melembutkan Hati dengan Puasa

Written By mt@kebumen on Minggu, 29 Mei 2011 | 00.11

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikut beliau, amien. Alhamdulillah Allah SWT telah memberi kepada kita umat Islam sebuah petunjuk yang sangat sempurna yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah yang didalamnya bertabur dengan mutiara-mutiara keajaiban, yang berkilau-kila dan menakjubkan. Yang dapat diambil oleh siapapun yang menginginkannya.

Kasus kekerasan di jaman ini telah bergerak merangkak sedikit demi sedikit dan terus menggerus budaya luhur bangsa timur yaitu budaya kelembutan hati yang merupakan budaya indah yang terserak di dunia timur. Sisa-sisa budaya yang demikian menyejukkan masih nampak ada didalam sikap dan perilaku serta tersimpan dalam hati generasi yang merasakan indahnya hidup berhati santun, namun generasi penerus nampak begitu susah mewarisi keindahan sikap yang begitu mulia dan indah.

Allah SWT telah menggambarkan berbagai macam penyebab, baik yang nampak maupun tersembunyi yang mengaibatkan manusia berhati kaku, kasar dan bahkan berhati batu, sebagaimana firman-firman Allah yang artinya

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina (QS. 68:10)
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. 68:11)
yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, (QS. 68:12)
yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, (QS. 68:13)
karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. (QS. 68:14)
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata:”(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala”. (QS. 68:15) )

Diantara penyebab manusia menjadi manusia yang kaku dan kasar serta kejam dapat segera diketahui, yaitu manusia telah melazimi perbuatan dosa dan kejahatan, dan merasa puas dan bangga diri dengan segala apa yang dimiliki, baik berupa harta dan kekuatan. Untuk dibangga-banggakan dalam kehidupan di dunia tanpa mau mengenal kehidupan akherat. Dalam ayat yang lain Allah berfirman yang artinya

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS. 22:52)
agar Dia menjadikan apa yang dimaksudkan oleh syaitan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat, (QS. 22:53)
dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. 22:54) )

Allah menjelaskan bahwa hati-hati manusia yang masih menyenangi perbuatan dosa dan kejahatan sebagai hati yang kasar, hati yang penuh dengan gejolak permusuhan.

Orang-orang yang masih suka tenggelam dalam kelezatan perbuatan dosa dan kejahatan, maka akan berakibat didalam hatinya dipenuhi dengan bisikan-bisikan jahat, bisikan bisikan kotor dan bisikan-bisikan yang mengajak kepada permusuhan. Perbuatan dosa menjadikan syaitan dapat masuk dan menguasai hati manusia. Dan kemudian membisikkan kepada manusia tentang kegundahan, kekecewaan, ketidakpuasan, kejengkelan, dan bahkan menuju kepada permusuhan dan pertikaian.

Dalam firman-Nya yang lain Allah SWT berfirman yang artinya

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik. (QS. 5:13)

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (untuk) menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah.Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. 39:22)

Kelembutan, ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hati adalah sesuatu nikmat Allah yang sangat tinggi dan mulia, namun nikmat-nikmat tersebut bisa tercabut dan rusak serta berubah menjadi siksa, baik siksa hati atau siksa phisik. Penyebab tercabutkan nikmat-nikmat hati adalah disebabkan oleh perbuatan durhaka dan perbuatan-perbuatan dosa yang terus menerus dilakukan.

Jaman kini, zaman informasi global, banyak sekali perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT telah disebar dengan bebas tanpa batas, sispapun yang tidak memahami kebenaran, pasti menyenangi dengan perbuatan-perbuatan dosa tersebut, karena memang perbuatan tersebut terpulas sebagai perbuatan yang menyenangkan dan enak untuk dinikmati, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

Namun ketetapan Allah pasti berlaku, barang siapa berbuat dosa, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan maka daki-daki dosa akan memenuhi hatinya, dan akan merubah hatinya yang lembut dan penyayang, ramah tamah berubah menjadi hati yang kaku, kasar dan penuh dengan kegelapan hati.

Puasa Jiwa dan Raga Menuju Kebahagiaan Yang Lebih Kekal
Umat Islam telah bertahun-tahun diajari oleh Allah SWT tentang puasa, apakah itu syari’at puasa wajib, misalnya puasa romadhon, atau puasa sunnah, seperti puasa senen kamis, puasa 3 hari di tiap tengah bulan qomariah, atau bahkan puasa Nabi Dawud.

Dalam mengajaran tentang puasa romadhon Rasulullah Muhammad SAW telah menyampaikan, banyak orang yang berpuasa namun tidak diperoleh taqwa, yang diperoleh hanya lapar dan haus. Untuk mendapat taqwa manusia perlu mempuasakan seluruh indranya, aqalnya dan hatinya dari segala kesengan-kesenangan yang dibujukkan syaitan. Dan kemudian diisi dengan tekun belajar dan menghayati Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk diamalkan.

Zaman modern, zaman serba mewah, zaman tercukupi segala keinginan pemuasan hawa nafsu, zaman bebas untuk meraih segala apa saja yang disenangi hawa nafsu, dan semua tersedia. Sangat berbeda jauh dengan zaman Rasulullah SAW ketika sedang diutus ke bangsa arab yang masih dalam kondisi lemah dan miskin. Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya

bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang yang berebut melahap isi mangkok (makanan). Para sahabat bertanya, “Apakah saat itu jumlah kami sedikit, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali tetapi seperti buih air bah (tidak berguna) dan kalian ditimpa penyakit wahan. ” Mereka bertanya lagi, “Apa itu penyakit wahan, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Kecintaan yang sangat kepada dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Demi Allah, bukanlah kemelaratan yang aku takuti bila menimpa kalian, tetapi yang kutakuti adalah bila dilapangkannya dunia bagimu sebagaimana pernah dilapangkan (dimudahkan) bagi orang-orang yang sebelum kalian, lalu kalian saling berlomba sebagaimana mereka berlomba, lalu kalian dibinasakan olehnya sebagaimana mereka dibinasakan. (HR. Ahmad) )

Marilah kita melihat keutamaan Nabi Dawud As, Beliau adalah Nabi dan sekaligus Raja, tentu segala fasilitas dan kekuatan yang dimiliki dapat membuat beliau berbuat apa saja. Namun Nabi dawud adalah nabi yang terkenal dengan sehari puasa dan sehari berbuka, dan nabi yang dikenal dengan suara yang Indah, yang selalu melantunkan kitab suci Zabur.

Kelezatan firman-firman Allah yang dalam kitab Zabur yang selalu dilantunkan oleh nabi Dawud, selalu dapat memenuhi hati Nabi Dawud. Puasa dalam arti sesungguhnya, mempuasakan aqal, hati dan seluruh indra dari hal-hal yang membawa kepada kecintaan kepada dunia yang berlebihan perlu dijalankan oleh setiap pencari kebahagiaan hakiki. Sebagaimana firman Allah yang Artinya

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (QS. 38:26)

Zaman Globalisasi, zaman pemanjaan seluruh kesenangan indra, aqal dan hati. Namun tetap saja bila seluruh kemanjaan itu dipuaskan dan dibebaskan manusia akan jatuh berkubang dosa, kesesatan, kesedihan dan kekacauan

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 12:53)

Sekali lagi, kelembutan jiwa dan hati yang dapat terungkap dalam kata-kata, perbuatan, sikap dan perilaku atau sering dikatakan sebagai KARAKTER MULIA, bukanlah sekedar hasil dari puasa jasmani saja, namun dia adalah hasil konkrit dari puasa jiwa dan raga, puasa lahir dan batin, puasa dari hal-hal yang disenangi nafsu, dan kemudian waktu-waktu hidup ini diisi dengan aktifitas-aktifitas yang diridhoi Allah SWT.

Berapakah waktu kita yang kita habiskan memanjakan diri dengan menatap tajam hiburan-hiburan MULTIMEDIA yang merusak iman di hati, berapakah waktu kita yang kita habiskan untuk mendengar dengan girang gemirang musik-musik dari MULTIMEDIA yang merusak iman di hati.

Berapa waktu kita yang kita habiskan untuk bersenang-senang, berpesta pora dan terus-menerus merencanakan untuk terus menerus berpesta pora ?????, berhati-hatilah kita masih hidup di dunia, kita belum hidup di Surga Allah di akherat !!!!, Bila kita tidak berhati-hati maka bisa saja akhir hayat kita tenggelam dalam kesenangan yang dimurkai Allah dan mati masuk kedalam naar (neraka) yang dipenuhi dengan kesusahan dan kesusahan yang panjang.

Mari kita biasakan mempuasakan jiwa dan raga kita untuk menggapai kebagiaan, keselamatan, kedamaian, kemuliaan di dunia dan di akherat, sebagai yang dijanjikan Allah dalan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Diantara tanda-tandanya ialah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang lembut hati, ramah tamah, pemaaf, penghiba, bertaqwa dan senantiasa menyejukkan suasana dimanapun mereka berada. …Wallahu a’la

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari » www.mt@-online.com www.mt@fm.com

Indahnya Islam walau dalam peperangan

Written By mt@kebumen on Minggu, 22 Mei 2011 | 09.37

Sudahlah sangat tepat bila orang mengatakan Islam itu Indah, dalam arti akhlaq orang Islam seharusnya indah sebagaimana dalam banyak riwayat dicontohkan oleh Rasul dan para sahabatnya. Bahkan dalam peperangan sekalipun Islam tetap mempunyai aturan yang sangat indah, sebagaimana riwayat berikut :

Dari Yahya bin Sa’id, bahwasanya Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah mengirim pasukan ke negeri Syam, lalu beliau mengantarkan pasukan dengan berjalan kaki, sedangkan Yazid bin Abu Sufyan yang saat itu memimpin seperempat dari tentara tersebut naik kuda. Orang-orang berkata bahwa Yazid berkata kepada Abu Bakar, “Silahkan engkau yang naik, atau aku yang turun”. Abu Bakar berkata, “Engkau tidak boleh turun dan saya tidak akan naik. Saya mengharapkan dengan langkah-langkahku ini pahala di jalan Allah.” Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya; “Sungguh kamu akan mendapati suatu kaum yang menganggap bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah, maka biarkanlah mereka dengan keyaqinan mereka, bahwa mereka itu menahan dirinya untuk Allah. Kamu juga akan mendapati suatu kaum yang menggunduli bagian tengah kepala mereka, maka pukullah apa yang mereka cukur tersebut dengan pedang. Dan sungguh saya berpesan kepadamu dengan sepuluh perkara : 1. jangan sekali-kali kamu membunuh wanita, 2. anak-anak dan 3. orang yang sudah tua. 4. jangan menebang pohon yang sedang berbuah, 5. jangan merobohkan bangunan, 6. jangan menyembelih kambing dan 7. Jangan pula unta kecuali untuk dimakan, 8. jangan membakar (sarang) lebah dan mencerai-beraikannya. 9. janganlah khianat, dan 10. Jangan menjadi seorang yang penakut”. [HR. Maalik dalam Al-Muwaththa’ juz 2, hal. 447, no 10]

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari mt@fm.com

Beda Boleh,Putus Silaturahmi Jangan”

Written By mt@kebumen on Rabu, 11 Mei 2011 | 08.24

Rubrik Opini harian ini edisi 5 April 2011 memuat tulisan Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, berjudul Menyikapi Kegarangan Puritanisme. Artikel tersebut ternyata berisi “fitnah” terhadap Majlis Tafsir AlQur’an (MTA). Oleh karena itu, MTA perlu menanggapi karena tulisan tersebut dapat mencitrakan MTA secara keliru.

Majlis Tafsir Al-Qur’an Surakarta adalah lembaga dakwah Islamiyah, didirikan oleh Ustad Abdullah Thufail Saputra (1927-1992) pada 19 September 1972. Ustad Abdullah Thufail adalah murid ulama dari Yaman. Dimasanya, beliau adalah mubalig terkenal di Solo dan sekitarnya. Pada saat menghadapai terror dari sisa-sisa G30S/PKI pada 1966, beliau terpilih menjadi ketua KKPI (Koordinasi Kesatuan Pemuda Islam) yang dibentuk oleh tujuh ormas pemuda Islam Surakarta waktu itu.

Meninggalkan Bid’ah

Tekanan pada pengamalan Al Qur’an dan As-Sunnah menjadikan siswa/peserta MTA meninggalkan amal-amal yang tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an maupun As-Sunnah. Walaupun ada hadistnya, apabila hadist tersebut daif, amal itu ditinggalkan. Misalnya, membaca Yassin pada malam jum’at karena ternyata semua hadist yang menjadai dasar adalah daif. Tahlilan yang dilakukan pada saat orang meninggal dan peringatan hari kematian juga begitu. Banyak amal lain yang oleh gerakan kembali ke Al Qur’an dan As-Sunnah dipandang sebagai “laisa minal islam, takhayul, bid’ah dan khurafat” ditinggalkan.

Gerakan kembali ke Al Qur’an dan As-sunnah yang meninggalkan amal-amal “laisa minal islam, takhayul, bid’ah dan khurafat” bukan gerakan yang baru. Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan, Persis yang didirikan oleh KH. A.Hasan dan Al Irsyad yang ditokohi oleh KH Ahmad Syurkati adalah gerakan-gerakan kembali kepada Al Qur’an dan as-sunnah.

Salah satau prinsip Ustad Abdullah Thufail sewaktu mengajar di MTA adalah “Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan putus silaturahmi”. Jadi alih-alih mencegah jamaah yang akan pergi tahlilan atau yasinan, alih-alih bersikap garang kepada umat Islam yang lain, justru siswa/peserta MTA di mana-mana dihadang, dicegat, diboikot, diusir dari masjid tempat mengaji, dan dipukuli. Hampir tiap binaan MTA dan cabang atau Perwakilan MTA yang abru mengalami serangan semacam itu sejak zaman Ustad Abdullah Thufail hingga zaman Ustad Sukina kini.

Serangan yang paling dahsyat sehingga Kapolda Jateng harus turun tangan terjadi di Blora pada 2003. Karena meninggalkan tradisi yang tidak ada tuntunannya dari Rasul, warga binaan MTA di desa Bangkerep, kecamatan Kunduran, Blora diusir dari masjid dan kampungnya. Mereka ditampung di MTA Pusat di Solo selama dua setengah tahun. Pada 14 September 2003, mereka (berjumlah 58 orang termasuk anak-anak yang lahir di penampungan) diantar pulang oleh pengurus MTA Pusat. Tetapi begitu rombongan masuk desa Bangkerep, orang-orang sekampung keluar mengeroyok. Mobil dilempari batu, ketua binaan MTA dipukuli dan kepala salah seorang siswa binaan dibacok. Rombongan pun kembali ke Solo.

Serangan kepada warga binaan MTA yang masih tinggal di desa Bangkerep semakin keras. Mereka tidak boleh mengambil air dari sumur tetangga, jalan menuju sawah warga MTA dipagari, tanaman jagung dibabati. Ketika Kepolisian berusaha mendamaikanorang-orang kampong hanya menerima siswa/peserta MTA kembali ke desa Bangkerep apabila siswa/peserta MTA kembali mengamalkan tradisi. Tentu saja syarat itu ditolak.

Yang terjadi di Purworejo (seperti yang ditulis Said Agil Siradj di artikelnya) pun bukan warga binaan MTA yang menghadang jamaah yang hendak melakukan tahlilan dan yasinan dengan menyebut-nyebut amalan tersebut sebagai syirik tetapi justru warga binaan MTA yang mendapat intimidasi. Kami telah mengecek hal tersebut ke pengurus pengajian Binaan MTA di Purworejo. Justru salah seorang pengurus binaan MTA diintimidasi dan seorang ibu diancam akan dibakar rumahnya apabila tetap mengaji di MTA. Menyerang, mengintimidasi atau memaksa orang lain bukan khitah MTA. Justru warga MTA akan ngalah apabila diserang dan berusaha mencari penyelesaian hukum. Itu sudah menjadi standard operating procedure di MTA dalam menghadapi gesekan dengan mayarakat atau ummat Islam yang lain.

Pengajian MTA tertib, siswa/peserta tercatat, sehingga apa yang terjadi dan dilakukan oleh siswa/peserta MTA dapat dicek. Maka, tuduhan bahwa warga binaan MTA di Purworejo mencegah jamaah pengajian yang hendak melakukan tahllilan dan yasinan itu mnjadi fitnah yang mas’ul di hadapan Allah.

Memang dalam pengajian pada setiap Ahad pagi, yang oleh Radio MTA diberi nama Jihad Pagi, maksudnya “Pengajian Ahad Pagi”. Ustad Sukina menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar tahlilan dan yasinan dengan jawaban bahwa itu tidak ada tuntunannya. Tetapi, bahwa kemudian hal tersebut ditafsirkan sebagai provokatif atau pelecehan sangat berlebihan.

Islam yang Berkebangsaan

MTA menghargai dan menghormati metoda dakwah yang ditempuh oelh para perintis masuknya Islam ke Nusantara, seperti mengubah tradisi local secara perlahan-lahan. Itu adalah ijtihad para perintis tersebut dalam menghadapi agama dan kepercayaan yang sudah berurat akar di masyarakat waktu itu. Tetapi, kini metode dakwah semacam itu harus dipahami sebaga dakwah yang belum selesai. Umat Islam sekarang harus melanjutkan dakwah menuju Islam yang kafah. Kepercayaan kepada takhayul dan kurafat yang masih tersisa dibersihkan.

Citra MTA sebagai gerakan yang eksklusif dan egois juga citra yang yang jauh panggang dari api. Sebagaimana sudah diterangkan bahwa salah satu prinsip MTA adalah “Boleh Berbeda Pendapat Tetapi Jangan Putus Silaturahmi” MTA bekerjasama dengan siapapun. Kantor MTA di jalan Ranggawarsita, Solo sangat sering digunakan pertemuan Umat Islam dibawah paying MUI Kota Solo. Berbagai tokoh dari berbagai organisasi dan faham sering mengisi pengajian Ahad pagi. Memang kebanyakan mereka adalah tokoh-tokoh dari kalangan reformis/modernis, seperti Pak Amin Rais, Pak Din Syamsuddin, Pak Amidan, Pak Kholil Ridwan dan para pejabat sipil atau militer. Yang terakhir mengisi di pengajian Ahad pagi MTA adalah Dr. Muhammad Syafei Antonio.

Memang belum ada tokoh NU yang mengisi pengajian Jihad Pagi, kecuali KH Drs Zainuddin MZ yang pernah sekali datang, meski bukan atas nama pengurus NU. Oleh karena itu, melalui tulisan ini kami mengundang Said Aqiel Siradj untuk mengisi pengajian Ahad Pagi yang dihadiri lebih dari enam ribu peserta dan disiarkan melalui radio dan internet secara online.

Oleh YOYOK MUGIYATNO
Sekretaris Umum Majlis Tafsir Al Qur’an Surakarta.
Dimuat di OPINI Koran Jawa Pos (14-04-2011), sebagai jawaban atas OPINI berjudul “Menyikapi Kegarangan Puritanisme” oleh SAID AQIEL SIRADJ di Jawa Pos (05-04-2011)

Artikel ini di coppy sepenuhnya dari MTA-ONLINE.COM

Hidup Di Tengah Era Globalisasi PORNOGRAFI

Written By mt@kebumen on Sabtu, 16 April 2011 | 18.09

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu setia mengikuti peyunjuknya.

Jaman Globalisasi, jaman yang menyadarkan manusia bahwa bumi benar-benar sesuatu yang sangat kecil dibandingkan alam raya. Namun ditengah-tengah nikmat Allah yang demikian besar semakin banyak manusia yang makin tidak sadar apa dan kenapa mereka hidup di dunia dan apa sebenarnya mereka dihidupkan dan untuk tugas apa mereka itu ada dan hidup.
.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu di kembalikan. (QS. 2:28)

.
Globalisasi dapat berdampak positip bagi mereka yang mempunyai pendirian dan pegangan yang kokoh dalam beragama Islam, sebaliknya globalisasi akan menjadi sesuatu yang sangat merugikan bagi mereka yang masih berjiwa labil dan bodoh dalam mengisi kehidupan.

Bila kita telah memakai kacamata pandang yang benar, maka akan mengetahui akan tujuan hidup yang haqiqi, yaitu melihat tanda-tanda keagungan Allah disegenap penjuru alam ciptaan Allah, dan kemudian rajin untuk bertasbih, tunduk taat, bersujud, mengagungkan Allah SWT. Allah Tuhan yang Maha Pencipta telah menciptakan beragam jenis aneka rupa-rupa macam jenis ciptaan dengan segala hal-hal yang bisa dipahami dan keanehan-kenehan yang kadang perlu perenungan untuk memahaminya.

Unjung perenungan pada diri seseorang adalah munculnya rasa kagum kepada Allahu Akbar Tuhan Semesta Alam, Tuhan yang Maha Pencipta, dan kemudian bersikap tunduk patuh kepada Segala hukum yang telah Allah tetapkan, dan sekaligus berusaha keras untuk memahami Petunjuk-petunjuk Allah yang Allah sampaikan lewat Kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah yang semuanya itu diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
.

Allah berfirman:”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan seat dan ia tidak akan celaka. (QS. 20:123)

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
.

Dalam catatan sejarah telah terbukti dengan bukti yang tidak akan dapat dilupakan oleh umat manusia, ketika manusia memunculkan ajaran-ajaran keangkuhan kepada Allah, maka kemudian terjadilah musibah besar dan sangat-sangat besar. Ketika manusia menonjol-nonjolkan ajaran atheisme dan komunisme di akhir abad 18, maka generasi berikutnya memanen musibah sangat-sangat besar di awal hingga pertengahan abad 19, yaitu terjadinya perang dunia satu dan perang dunia dua yang membuat kerugian yang sangat-sangat besar bagi peradaban umat manusia.

Demikian pula Euphoria Jaman Globalisasi disaat ini, Era Globalisasi diawali kira-kira th 1980, atau di penghujung akhir abad sembilan belas. Apa yang menonjol dari era Globalisasi adalah Era Teknologi Digital, Era tehnologi Biner ( 0 dan 1), yang dapat menghasilkan loncatan supercepat dari segala teknologi yang sebelumnya, apalagi di dalam teknologi informasi (IT).

Euphoria Zaman Globalisasi harus direspon oleh umat Islam dengan respon yang cepat pula, bila tidak direspon dengan cepat maka akan berakibat buruk pula dimasa-masa berikutnya. Kebebasan manusia untuk mengungkapkan apa saja yang dimiliki oleh manusia telah disebar di jaman Global.

Pertukaran berbagai macam pola pikir, filsafat hidup, budaya, aktifitas dan perilaku dari yang terjelek hingga yang terbaik nampak mengemuka di berbagai macam jenis media. Yang sangat mencengangkan tentunya adalah tersebarnya berbagai macam budaya-budaya yang dilarang oleh Agama. Yang bila dilakukan dapat merusak tatanan moral dan tatanan budaya luhur dan mulia umat manusia, bahkan merusak keadaban manusia

Sudah sangat-sangat jelas bahwa segala larangan yang Allah sampaikan didalam kitab suci Al-Qur’an adalah sesuatu yang bila benar-benar dihindari, akan menghasilkan kelestarian ketinggian moral dan keselamatan manusia. Dan juga yang Allah perintahkan, adalah segala sesuatu yang menjadikan manusia semakin kokoh didalam kedudukannya sebagai makhluq yang diberi kedudukan mulia oleh Allah Tuhan Semesta Alam.

Seorang Anggota DPR dari partai Yang Terhormat telah tergelincir dan telah masuk dalam perbincangan luas tentang kasus melihat perbuatan pornografi di saat sidang Paripurna, menunjukkan peristiwa gunung es yang pasti dibawahnya ada yang jauh lebih besar dari itu. Dan sebenarnya permasalahan utama adalah kerusakan moral, kerusakan jiwa manusia, dan manusia perlu tahu bahwa manusia dimurkai oleh Allah dan dijauhkan dari Allah disebabkan diawali oleh pelanggaran tentang pornografi
.

Dan Allah berfirman):”Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim”. (QS. 7:19)

Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata:”Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (QS. 7:20)

Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya:”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, (QS. 7:21)

Maka syaitan membujuk keduanya (untuk makan memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah baginya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka:”Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:”Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua” (QS. 7:22)

Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. 7:23)

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”. (QS. 7:24)

Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. (QS. 7:25)

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi ‘auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. 7:26)

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (QS. 7:27)

.
Kejatuhan Moral Umat manusia dari ulahnya dengan pornografi bukan sekedar sebuah kejadian eksak yang bisa dinalar dengan aqal saja, namun sebuah kejadian kepastian ILAHI, bila manusia telah melanggar larangan Allah dengan pornografi pasti mereka akan tidak mampu lagi menjadi makhluq mulia yang didekatkan kepada Allah.

Orang yang dijauhkan dari Allah Tuhan semesta alam, Orang yang telah jatuh moralnya, dan rendah kedudukannya, maka orang tersebut akan dengan ringan melepaskan agamanya, atau lebih suka menjadi orang kafir, atau menjadi orang musyrik atau menjadi orang mujrim atau bahkan berani dengan ungkapan-ungkapan nyata-nyata menentang Allah Tuhan semesta Alam. Banyak kejadian yang berakhir fatal yang dimulai dari dosa-dosa yang disebabkan oleh pornografi.

Setelah manusia jauh dari Allah maka berikutnya manusia akan semakin kuat untuk berbuat yang semakin parah dalam kerusakan, hilangnya iman dan taqwa membawanya kepada kejahatan-kejahatan besar yang berikutnya, berani belajar dan menggunakan ilmu sihir, berani membuat menipuan-penipuan besar, berani melakukan kejahatan-kejahatan besar, dst-dst
.

Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang pedih. (QS. 16:63)

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Tuhan) Yang Maha Pemurah (al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. 43:36)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS. 43:37)

.

Respon cepat yang harus dimiliki oleh umat Islam di zaman ini yang paling dominan adalah bersumber dari Euphoria Globalisasi PORNOGRAFI, yang membawa moral umat manusia semakin cepat melorot jatuh ke tingkat bawah. Kemerosotan moral yang demikian parah maka berikutnya disusul dengan penderitaan dan penderitaan. Penderitaan jiwa, baik individu atau juga khalayak.

Kejadian-kejadian Pornografi telah membuat manusia jauh dari Allah, tidak lagi mampu mereguk lezatnya iman dan taqwa, sehingga manusia dengan bersemangat berebut kelezatan-kelezatan yang lain, dan kelezatan yang instant untuk diperebutkan adalah kelezatan tahta, harta dan nafsu syahwat, dan kelezatan materiil dunia, saling beradu kekuatan untuk memperebutkan kenikmatan materiil dunia.

Bila penyakit jiwa ini semakin parah , walaupun dosa makin bertumpuk-tumpuk, manusia sudah semakin sulit dicegah untuk berbuat merusak diri, dan semakin sulit diajak untuk keluar dari kebiasaan buruk yang membinasakan, sebagaimana pecandu narkoba yang telah tenggelam dalam kecanduan yang kian parah.

Jaman Era pornografi seharusnya segera di akhiri dengan kesadaran orang-orang yang masih punya daya tahan dan kesadaran akan bahaya pornografi. Dan Harus segera mengajak umat manusia untuk meninggalkan dan menjauhi serta memberantas pornogarfi.

Dan jalan pintas untuk keluar dari lingkaran setan tersebut adalah peran para pemegang kekuatan dan kekuasaan untuk menyembuhkan masyarakat dari penyakit pornografi, sebagaimana mereka sangat peduli dengan pencegahan dan penyembuhan berbagai macam penyakit yang biasa menghinggapi raga manusia seperti penyakit darah tinggi, penyakit jantung, penyakit kanker, pengakit diabetes, dll karena penyakit akibat pornografi berakibat buruk yang lebih parah dan lebih kekal kesusahan dan penderitaannya.

Manusia-manusia pecandu pornografi perlu segera disadarkan bahwa apa yang mereka lakukan itu sesuatu yang menjadikan mereka mendapat hukuman dijauhkan dari Allah Tuhan semesta Alam, baik di dunia dan di akherat.

Semoga umat manusia segera sadar akan bahayanya dan segera membebaskan diri pornografi. Mengajilah-mengajilah-mengajilah dengan tekun, semoga Allah memberi kekuatan kepada manusia untuk terbebas dari godaan pornografi.
….. Wallahu a’lam.

Artikel ini sepenuhnya di salin dari www.mta-online.com

Jangan Kaget Dengan Kesaksian Mantan Pendeta Hindu

Written By mt@kebumen on Sabtu, 26 Maret 2011 | 22.46

Mungkin sudah biasa kita mendengar atau menyimak pembicaraan tentang orang-orang di luar agama Islam yang kemudian menjadi seorang muslim lalu memberikan kesaksian di mana-mana. Hanya saja yang satu ini agak beda karena kesaksiannya bisa membuat orang kaget, tersinggung dan mungkin ada yang marah. Seorang mantan Pendeta Hindu yang bernama asli Ida Bagus Erit Budi Finarno, SAG yang lahir di Tabanan Bali sebagai kasta tertinggi orang Hindu yaitu kasta Brahmana, sejak tahun 1995 mengganti namanya dengan Abdul Aziz

setelah beliau mendapat hidayah memeluk agama Islam.

Alumni PGA dengan gelas SAG namun bukan SAG Muslim tetapi SAG Kaaafir yang saat ini telah dijuluki sebagai seorang ustdaz membeberkan tentang ajaran agama hindu yang dulu telah dianutnya secara gambalang karena disertai dengan dalil-dalil dari kitab Weda. Dari paparan yang beliau sampaikan mungkin ada sebagian umat Islam ini yang kaget, tersinggung atau bahkan marah karena beliau sampaikan bahwa ritual-ritual yang selama ini banyak dikerjakan umat Islam ternyata telah dulu dikerjakan oleh umat Hindu yang memang disebutkan dalam Kitab suci agama mereka. Namun demikian bagi umat Islam yang mau mengkaji agama ini dengan benar berdasarkan Al-qur’an da sunnah tentu tidak usah bingung dan tidak usah kaget, namun seharusnya semakin yakin untuk meninggalkan segala macam ritual yang selama ini dikerjakan namun tidak pernah diperintahkan di dalam Al-qur’an maupun As-Sunnah tetapi malah diperintahkan di dalam kitab Weda yang bukan kitab sucinya umat Islam.

Seperti apa paparan ustadz yang satu ini silahkan simak dalam rekaman berikut.

Download Di Sini

SKB 3 Menteri dan 12 Pernyataan Ahmadiyah

Written By mt@kebumen on Senin, 14 Maret 2011 | 21.45

Sejak Surat Keputusan Bersama (SKB) dikeluarkan pada bulan Juni tahun 2008. Masih tetap muncul penentangan, kekerasan dan kerusuhan seperti kasus kerusuhan Monas, penyerangan dan sebagainya di lokasi-lakasi ahmadiyah. Yang terparah adalah di Pandeglang di awal tahun 2011 ini.

Sebenarnya muara dari persoalan ini adalah ketidaktegasan aturan dalam SKB itu. Jika di Pakistan, Ahmadiyah dengan tegas disebut non-muslim. Wallahu A’alam, mari berdoa semoga pemerintah sebagai pengatur negara mampu memberikan solusi terbaik sehingga tidak muncul kasus kekerasan kembali. Dan para penganut Ahmadiyah bertobat kembali ke agama yang benar.

Berikut ini adalah dokumen SKB 3 Menteri dan 12 butir Pernyataan Jemaat Ahmadiyah.

Ketegasan pemerintah dalam soal Jemaat Ahmadiyah Indoneisa (JAI) di teken 3 menteri, disebut SKB (Surat Keputusan Bersama) yang ditetapkan pada Hari Senin, Tanggal 9 Juni 2008.

Keputusan Bersama Menag, Mendagri, Jaksa Agung tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota dan/atau anggota pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat (nomor: 3 Tahun 2008, nomor: KEP-033/A/JA/6/2008, nomor: 199 Tahun 2008)

Kesatu:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran itu.

Kedua:
Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad SAW.

Ketiga:
Penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum kedua dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk organisasi dan badan hukumnya.

Keempat:
Memberi peringatan dan memerintahkan warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dan/atau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota, dan/atau anggota pengurus JAI.

Kelima:
Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah sebagaimana dimaksud pada diktum kesatu dan diktum keempat dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Keenam:
Memerintahkan aparat pemerintah dan pemerintah daerah melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan Keputusan Bersama ini.

Keputusan Bersama ini berlaku sejak tanggal ditetapkan di Jakarta pada 9 Juni 2008. Menteri Agama, Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri

12 butir Pernyataan Jemaat Ahmadiyah

Tertanggal 14 Januari 2008, Jemaat Ahmadiyah mengeluarkan 12 butir pernyataan setelah melalui rentetan dialog dengan Departemen Agama. Pernyataan itu terkait dengan rapat Pakem yang akhirnya menetapkan bahwa negara tak melarang Jemaat Ahmadiyah.

Berikut ini 12 pernyataan itu:

  1. Kami warga Jemaat Ahmadiyah sejak semula meyakini dan mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Muhammad Rasulullah SAW, yaitu Asyhaduanlaa-ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammadar Rasullulah, artinya: aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah.
  2. Sejak semula kami warga jemaat Ahmadiyah meyakini bahwa Muhammad Rasulullah adalah Khatamun Nabiyyin (nabi penutup).
  3. Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW.
  4. Untuk memperjelas bahwa kata Rasulullah dalam 10 syarat bai’at yang harus dibaca oleh setiap calon anggota jemaat Ahmadiyah bahwa yang dimaksud adalah nabi Muhammad SAW, maka kami mencantumkan kata Muhammad di depan kata Rasulullah
  5. Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa :
    1. tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad.
    2. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.
  6. Buku Tadzkirah bukan lah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohami Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).
  7. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata maupun perbuatan.
  8. Kami warga jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan menyebut Masjid yang kami bangun dengan nama Masjid Ahmadiyah.
  9. Kami menyatakan bahwa setiap masjid yang dibangun dan dikelola oleh jemaat Ahmadiyah selalu terbuka untuk seluruh umat Islam dari golongan manapun.
  10. Kami warga jemaat Ahmadiyah sebagai muslim melakukan pencatatan perkawinan di Kantor Urusan Agama dan mendaftarkan perkara perceraian dan perkara lainnya berkenaan dengan itu ke kantor Pengadilan Agama sesuai dengan perundang-undangan.
  11. Kami warga jemaat Ahmadiyah akan terus meningkatkan silaturahim dan bekerja sama dengan seluruh kelompok/golongan umat Islam dan masyarakat dalam perkhidmatan sosial kemasyarakat untuk kemajuan Islam, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
  12. Dengan penjelasan ini, kami pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia mengharapkan agar warga Jemaat Ahmadiyah khususnya dan umat Islam umumnya serta masyarakat Indonesia dapat memahaminya dengan semangat ukhuwah Islamiyah, serta persatuan dan kesatuan bangsa.

Jakarta, 14 Januari 2008 PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia



Sumber : http://kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id2=lintas

Bahaya Besar Akibat Mabuk Dunia

Written By mt@kebumen on Selasa, 01 Maret 2011 | 14.56

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW. keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang selalu sabar di jalan-Nya. Pernahkah anda melihat orang mabuk, mabuk karena minuman keras, atau mabuk karena obat bius, tentu kesadaran-nya menjadi hilang dan bahkan bisa tidak sadar sama sekali. Baik apa yang dilakukan olehnya atau apa yang dilakukan oleh orang lain padanya maka tidak akan dapat direspon dengan tepat dan benar.



Allah SWT memberitahu kepada kita tentang bahaya mabuk dunia, seberapa besar kemabukan kita kepada kehidupan dunia akan dapat diukur dengan firman Allah yang artinya

Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan di dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, (QS. 10:7)
mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. 10:8)

Salah satu bahaya besar bagi orang-orang yang sedang mabuk dunia adalah kehilangan kesadaran untuk mempersiapkan dan menggapai kebahagiaan mereka di akherat. Mungkin saja ilmu agama sedikit mereka miliki namun kemauan dan kesadaran untuk berbuat hal-hal yang membawa kepada kebahagiaan kehidupan di akherat sangat-sangat minim bahkan tidak ada. Mereka lebih suka hidup bersenang-senang melampaoi batas dan ditipu oleh syaitan dan angan-angan kosong belaka.

Diantara tanda-tandanya adalah mereka sangat memandang rendah tentang pengamalan agama dan memandang rendah orang-orang beriman

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan al-Qur’an itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak (pula) pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan-pun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka, disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu. (QS. 6:70)

Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS. 2:212)

(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main atau senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari itu (kiamat ini), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. 7:51)

Dalam dinamika maju mundurnya peradaban manusia, naik turunnya kejayaan dan kemunduran bangsa-bangsa di muka bumi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kesadarannya dalam memegang teguh pengamalan agama yang benar, kesung-sungguhan mereka mentaati kepada Allah Tuhan pemilik segala sumber Kebenaran.

Bangsa-bangsa yang bersusah payah mendidik diri untuk mengikuti kedisiplinan dalam kebenaran maka secara perlahan mereka akan menjadi bangsa yang maju dan jaya, sebaliknya bangsa-bangsa yang sudah mulai menempuh jalan kelalaian, kelengahan dengan bersenang-senang memperturutkan hawa nafsu, secara perlahan tapi pasti mereka sedang menuju jalan turun menuju kemunduran dan kehancuran.

Bila berbagai pelanggaran kebenaran telah terjadi diantara mereka, maka mereka tidak lagi suka untuk saling tolong-menolong dan saling kuat menguatkan, atau saling mengasihi diantara mereka, namun yang terjadi adalah mereka malah akan saling memusuhi, saling mengutuk, saling mencaci, saling menjegal, saling menghambat, dan saling menghancurkan.

Banyaknya masalah hukum yang bertumpuk-tumpuk di negri kita, dan sekaligus munculnya berbagai penyimpangan yang oleh aparat-aparat penegak hukum tanpa diwarnai dengan rasa malu dan menyesal, merupakan sinyal merah, sinyal bahaya yang sudah mengkhawatirkan. Kita sudah memasuki fase bahaya.

Pendiri bangsa kita telah mewariskan sebuah simbul berdera yang sarat makna, yaitu bendera merah putih perlambang sebuah ungkapan berani karena benar. Orang memiliki keberanian karena membela kebenaran yang harus ditegakkan. Keberanian diatas kesucian, keberanian dengan berdasar akhlaq dan moral yang mulia. Namun yang muncul di hari ini banyak orang yang berani membela orang-orang yang salah. Dan berani melakukan kesalahan tanpa lagi mengingat balasan-balsan dosa yang akan diterima.

Wal hasil benarlah pepatah “ayam mati di lumbung padi”. Ketika manusia telah meninggalkan cakrawala kebahagiaan kehidupan akherat yang luas dan mulia maka manusia akan masuk kedalam kehinaan dan kehancuran.

Orang-orang yang selalu ingat kehidupan akherat dan berbuat dengan akhlaq-akhlaq mulia, akan menjadi manusia yang sadar dalam mengisi kehidupan dunia dengan kebaikan-kebaikan yang akan dibawanya ke akherat kelak.

Sebaliknya orang yang sedang mabuk dengan kehidupan dunia, dan terus memuja hawa nafsunya, telah menjadi mabuk dan lalai dengan segala apa yang diperbuatnya. Pebuatan jahat dan kelicikan yang terus menerus membuahkan dosa terus menerus dilakukan dan semakin hari semakin banyak membuahkan dosa-dosa yang menutupi hatinya dan menjadikan mereka menuju akherat tanpa bekal kebaikan, bahkan dengan memikul dosa yang bertimbun-timbun. Walaupun umur sudah tinggal sebentar namun tetap saja lupa dengan amal-amal kebaikan….Na’udzubillahi min dzalika…. Wallahu a’lam

Budaya Merayakan Tahun Baru, Milik Siapa?

Written By mt@kebumen on Minggu, 02 Januari 2011 | 09.28

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh di tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus. Nah sudah jelas dong, kalo ini laisa minal Islam ya khan?

Fenomena kontradiktif selalu saja membayangi kehidupan manusia. Begitu pula dalam memperingati datangnya Tahun Baru. Ada yang hura-hura ada yang sebaliknya yakni prihatin dengan kondisi bangsa. Entah sejak kapan, budaya negative dalam peringatan Tahun Baru benar-benar telah melupakan orang tentang kematian. Semua seolah disulap suka-cita, hanyut dalam perayaan-perayaan, begadang, bergaul bebas, keborosan alias meniru dan mengekor budaya kafir. Yah, salah satu kata kunci yang bermain adalah bisnis. Misi bisnis juga telah berdosa membuat manusia lupa dengan dibungkus perayaan, acara-acara maka digunakanlah ini untuk meraup untung sebanyak-banyaknya.

Islam itu artinya berserah diri atau tunduk patuh. Tentu saja berserah diri kepada Allah dan tunduk patuh atas segala kehendak-Nya. Allah menghendaki kita suka menafkahkan harta kita fi sabilillah, tetapi banyak orang Islam lebih suka menghamburkan harta dalam bentuk membakar kembang api dan petasan. Allah menghendaki kita banyak dzikrullah, tetapi menusia suka hura-hura dan foya-foya yang semuanya itu melalaikan kita dari Allah. Padahal instruksi dari Allah sangat jelas (QS 6: 162)
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Orang yang hidupnya berorientasi ukhrawi akan berhati-hati dalam berfikir, bertutur-kata dan bertindak. Jangan sampai amalnya merugikan kehidupan akherat yang hendak dia jalani. Kalau Allah melarang manusia untuk menghambur-hamburkan harta dan mengingatkan manusia bahwa pemboros-pemboros itu teman syetan.
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (٢٦)إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS 17: 26-27)

Maka secara pasti dia tidak akan membakar hartanya dalam bentuk kembang api, petasan, terompet dan acara hura-hura lainnya.

Kalaulah Allah mengingatkan orang beriman untuk tidak berbuat sia-sia (QS 23: 3)
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,

Maka tidak akan habiskan waktunya untuk muter-muter kota dan hura-hura. Dia akan lebih senang duduk di rumah atau tempat ibadah, mengajak keluarga dan mengerjakan hal-hal yang lebih bermanfaat.

Jauh berbeda dengan orang yang hidupnya berorientasi jangka pendek, orientasi duniawi. Apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukannya adalah untuk kepentingan yang bersifat duniawi, yakni untuk memuaskan hawa nafsunya saja. Maka tidak heran kalau mereka di malam tahun baru meskipun diguyur hujanpun namun banyak sekali orang di Solo yang merayakannya dengan keluar rumah pria wanita campur baur menjadi satu dengan beraneka ragam terompet. Sedang yang di Jakarta di TMII ratusan ribu manusia berhura-hura dengan berbagai group band-nya. Sedang di Ancol ratusan ribu orang berpesta musik dan kembang api.

Perbedaan orientasi inilah yang menyebabkan manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda. Orang yang berorientasi ukhrawi akan memandang apa yang ada di dunia ini sebagai fitnah atau cobaan, maka mereka akan lebih berhati-hati dalam menghadapi cobaan. Semua amal yang dia lakukan akan dia lakukan dengan penuh perhitungan untung rugi bagi keselamatan akheratnya. Dia yakin betul bahwa di yaumul-hisab kelak semua amal akan diperhitungkan dan dipertanggung-jawabkan. Hidup di dunia ini cuma sekali, saatnya berprestasi untuk bekal kehidupan akherat. Sedang orang yang berorientasi duniawi dia akan memandang hidup itu hanya disini di dunia ini, maka sekarang inilah saatnya menikmati hidup. Maka orang seperti ini akan cenderung memandang hidup ini untuk bersenang-senang. Hidup di dunia ini cuma sekali mengapa harus menderita?

Dua orientasi hidup yang tidak mungkin bisa dipertemukan. Namun masih saja banyak orang Islam yang merasa mampu mempertemukan keduanya.
“Berharap sangat untuk mendapatkan sorga, tetapi hidupnya diwarnai dengan hura-hura, foya-foya dan menghabiskan hidupnya dengan banyak ketawa.”

Padahal Rasulullah saw sudah mengingatkan bahwa banyak tertawa itu mematikan hati. Hati kita menjadi tidak sensitif lagi dengan peringatan-peringatan Allah, tidak sensitif lagi dengan penderitaan orang-orang yang berada di sekitarnya.

Nun jauh di lain daerah, orang-orang sedang memikirkan nasib karena barusaja terkena bencana. Terkena musibah yang menghabiskan apa saja, rumah dan hasil bumi bahkan anggota keluarga. Wajiblah bagi kita memikirkannya, bukan malah melupakan atau berpura tidak peduli.

Maka sudah selayaknya umat Islam kembali hidup di alam nyata bukan di alam khayal dan segera sadar bahwa keselamatan kita di akherat nanti ditentukan oleh prestasi hidup kita di dunia ini. Jangan kita bingungkan diri kita sendiri dengan pertentangan yang berkepanjangan antara harapan dan kenyatan yang kita lakukan. Kalau kita tetap berada dalam keadaan demikian maka bukan tidak mungkin akan berbuah depresi yang berkepanjangan yang bisa membuahkan stress, gila, stroke bagi yang terkena tekanan darah tinggi dan gagal jantung bagi yang menderita lemah jantung.

Segera kita luruskan orientasi hidup kita ke arah akherat karena Allah menjanjikan bagi orang yang berorientasi ukhrawi dengan mendapatkan sorga dan bonusnya kesuksesan hidup di dunia. Sedang bagi mereka yang berorientasi duniawi maka mereka hanya akan mendapatkan sebagian kecil dari harta dan kesenangan dunia sedang mereka tidak akan mendapatkan bagian di akherat sama sekali (QS 42: 20).
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Padahal kalau kita faham dan tidak mudah lupa, hidup kita di dunia ini cuma sebentar sekali hanya sekitar 60-70 tahun segera akan mati itupun jika tidak meleset. Sedang kehidupan akherat itu kekal, tidak hanya jutaan tahun atau milayaran tahun tetapi kekal, abadi selama-lamanya.

Kalau sampai kita keliru dalam bersikap maka buahnya adalah penderitaan hidup yang kekal didalam kesusahan. Hanya mereka yang tepat dalam bersikap dalam arti benar-benar membangun ketuduk-patuhan kepada Allah dalam setiap aspek kehidupanlah yang akan sukses hidupnya dunia dan akherat. Merekalah yang akan memetik buah kehidupan dengan kebahagiaan yang kekal di akherat.


sumber :mta-online.com

MTA Perwakilan Kebumen

    • Kajian Majlis Tafsir Al Qur 'an
      perwakilan kebumen
    • Diselenggarakan :
      setiap hari selasa
      jam 16.00 s/d 17.30 wib
    • Kantor Pusat :
      Perum Mega Biru 2, Blok T No.3,
      Bumirejo Rt:3 /6, Kebumen.
    • Telp : 0287 3871159 / 08122783585

MTA Cabang Gombong

    • Kajian Majlis Tafsir Al Qur 'an
      Cabang Gombong
    • Diselenggarakan :
      setiap hari rabo
      jam 16.00 s/d 17.30 wib
    • Alamat : Bp. Tarno
      Selokerto Rt : 04 / Rw :02, Sempor,
      sebelah utara balai desa Selokerto
    • Telp : 081 5 69 79 1 78
 
Copyright © 2011. mta online ( brosur ahad - jihad pagi ) majlis tafsir al quran - Kebumen
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger